Senin, 01 Juli 2019

Ketahui Sejarah Perkembangan Jam Tangan


Ketahui Sejarah Perkembangan Jam Tangan

Jam yang digunakan pada tangan merupakan suatu perkembangan dari jam saku yang sudah ada terlebih dahulu. Konsepnya sendiri sudah ada sejak abad ke-16 berupa jam pemberian Robert Dudley kepada Ratu Elizabeth I dari Inggris. Namun, kebanyakan menganggap bahwa pencipta pertama jam di tangan ialah Abraham-Louis Breguet untuk Caroline Murat, saudari dari Napoleon dan ratu Napoli.

Pada awalnya jam tangan dikenakan oleh para wanita saja seperti mengenakan gelang, namun kemudian mulai bermunculan jam di tangan untuk pria menggantikan jam saku mengingat kepraktisannya untuk aktivitas misal pada tentara dan pilot. Sejak Perang Dunia I, jam di medan perang diperlukan untuk mengkoordinasikan taktik dan strategi, serta banyak pria yang terjun menjadi tentara. Mulai tahun 1923, John Harwood menciptakan jam di tangan dengan automatic winding pertama, yang memudahkan pemakainya sehingga tidak perlu melakukan winding pada jam secara manual terus-menerus.

Pada tahun 1957, jam elektrik pertama diproduksi dan diperkenalkan pertama kali di dunia oleh Hamilton Watch Company, sebuah produsen jam asal Lancaster, Pennsylvania, Amerika Serikat yang sekarang sudah di bawah Swatch Group. Jam elektrik ini disambut meriah oleh masyarakat karena tidak lagi harus memutar jam seperti pada jam kuno yang diperlukan kunci putar untuk memutar jam. Jam akan berhenti beroperasi saat permukaan penghantar elektriknya (coil) berkarat.

Di sisi lain, Bulova mengembangkan teknologi jam dengan menggunakan mekanisme getaran tuning fork atau garpu tala (plat berbentuk "U") yang dapat menjaga akurasi jam. Hal ini menggiring Bulova pada kesuksesan produknya yaitu Accutron, yang pertama kali diperkenalkan dan di jual pada tahun 1960. Hal ini berkaitan juga dengan proyek Bulova bersama NASA untuk penunjuk waktu di dalam kendaraan antariksa saat peluncuran Mercury serta Apollo yang mendaratkan manusia pertama di bulan.

Hal ini menarik perhatian para produsen jam di Swiss. Bahkan, mereka merasa dapat digeser oleh Bulova sebagai produsen alat penentu waktu yang paling akurat. Para produsen jam tersebut kemudian berinisiatif membiayai sebuah penelitian di laboratorium Center Electronique Horloger (CEH) sekarang bernama Centre Suisse d'Electronique et Microtechnique (CESM). Penelitian ini berfokus  menciptakan jam tangan dengan quartz sebagai pengatur akurasinya.

Sebelumnya kristal quartz sudah dipakai pada jam dengan ukuran besar namun belum digunakan pada jam di tangan. Pada tahun 1967, CEH akhirnya menciptakan prototipe jam tangan quartz yang pertama. Namun Seiko-lah yang memunculkan Quartz-Astron sebagai jam quartz pertama yang dijual secara komersial. Interpretasi Masyarakat Jepang terhadap penjualan jam di tangan quartz pertama ini tidaklah mulus. Selain karena harga awal yang mahal, desain permukaan belakang jam yang cembung pun membuat pemakainya merasa tidak nyaman.

Jam ini akhirnya ditarik dari pasar setelah diproduksi sekitar 100 buah jam. Seiring dengan meningkatnya produksi jam dengan quartz, ditambah lagi dengan berbagai kelebihan quartz dibanding jam mekanikal biasa, teknologi quartz pun semakin dikenal pada 1970. Semakin banyak produsen jam yang ada di Jepang dan Amerika Serikat mengikuti langkah Seiko.

Pada era seperti ini mulai muncul pula jam tangan digital diawali dengan hadirnya Hamilton Pulsar. Industri jam Swiss terkesan enggan untuk mengikuti tren quartz sehingga akhirnya semakin tergerus oleh industri jam tangan quartz dan kemudian memunculkan suatu era yang disebut quartz revolution atau quartz crisis.

Pada akhirnya industri jam tangan Swiss kembali bangkit mulai akhir tahun 80-an atau 90-an dengan munculnya Swatch serta naiknya popularitas jam mekanikal. Saat ini, meski jam quartz tetap mendominasi populasi jam yang beredar, geliat jam mekanikal tetap terasa terutama pada segmen-segmen eksklusif.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More